Sumur Gumuling, Masjid Tua Dengan Arsitektur Yang Luar Biasa

gumuling

 

Masih merupakan bagian dari kompleks pesanggrahan Taman Sari Yogyakarta, Sumur Gumuling merupakan masjid yang di bangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kompleks Tamansari dibangun atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758 M. Untuk menuju Sumur Gumuling dulu ada dua buah jalan yaitu melalui gerbang barat dan gerbang timur. Sebenarnya gerbang – gerbang ini adalah bagian dari urung – urung (gorong – gorong). Gerbang barat saat ini hanya tinggal sisa – sisanya saja karena telah runtuh sehingga tidak mungkin dilewati, sedangkan gerbang timur masih dalam kondisi yang cukup baik dan urung – urungnya pun masih bisa dilewati. Menurut cerita yang beredar jika berjalan melalui gerbang timur menuju gerbang barat maka akan sampai ke laut selatan.

Terdiri dari 2 lantai, pada masanya lantai 2 diperuntukan untuk imam dan jemaah pria, sedangkan lantai dasar diperuntukan untuk jemaah wanita. Meski berada di lantai bawah cahaya dan udara tetap masuk dengan baik disebabkan design ruang tengah yg seperti cincin memiliki atap terbuka sehingga udara dan cahaya bisa masuk dengan leluasa. Inilah yang membuat design / bentuk masjid Sumur Gumuling banyak membuat orang terkagum – kagum.

 

Sumurgumuling (5)

 

Selama ini memang belum diketahui secara pasti siapa arsitek yang membangun Tamansari.
Namun, menurut ahli dari luar negeri J Groneman, Pesanggrahan Tamansari dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pelaksananya adalah Tumenggung Mangun dipuro dan di bantu Lurah Dawelengi. Dalam tulisannya, J Groneman mengatakan, dalam proses pembangunan, Tumenggung Mangundipuro dua kali ke Batavia untuk mencari inspirasi bangunan gaya Eropa. Karena itu, bangunan Pesanggrahan Tamansari memiliki gaya Jawa dan Eropa.

 

Sumurgumuling (2)

 

Sumur Gumuling memiliki ketebalan tembok kurang lebih 1,25 meter. Sebab di sebelah utara, barat, dan selatan Sumur Gumuling dahulu merupakan segaran atau lautan, istilah orang jaman dahulu untuk menyebut kolam besar tempat penampungan air. Adanya air di sekeliling Masjid Sumur Gumuling ini menunjukkan arsitek masjid ini mengacu pada Alquran surah an – Nisa (4) ayat 13 dan surah al – Fath (48) ayat 17. Dalam kedua ayat tersebut diterangkan bahwa di bawah surga mengalir sungai – sungai. Sedangkan, letak Sumur Gumuling berada di tengah kolam segaran. Letak Sumur Gumuling yang dikelilingi air membuat udara di dalamnya sejuk sehingga sangat nyaman dan bisa digunakan untuk melaksanakan ibadah lima waktu dengan khusyuk. Meskipun Sumur Gumuling dikelilingi air, bangunannya tidak runtuh karena temboknya setebal 1,25 meter dan pembangunannya tidak menggunakan semen. Kolam segaran ini dihubungkan dengan kolam segaran yang mengelilingi Pulo Gedong yang luasnya 155×125 meter.

 

gumuling3

Air untuk memenuhi dua kolam segaran ini diambil dari Sungai Winongo dan Gajah Wong. Bekas saluran airnya masih ada, yakni berukuran 30×360 meter yang memotong jalan di sebelah utara Regol Gadung Mlati. Sehingga, jalan tersebut dilengkapi dengan jembatan gantung. Sedangkan di sebelah barat jembatan gantung ada panggung yang digunakan untuk melihat aktivitas perahu di kolam segaran.

 

gumuling4

Lokasi Sumur Gumuling

Lokasi Sumur Gumuling sendiri berada tepat di utara pemandian taman sari, atau bisa juga jika pengunjung memasukinya lewat Pasar Ngasem karena posisinya tepat di sebelah selatannya. Untuk yang belum tahu lokasi Taman Sari bisa melalui Alun – alun Utara ambil arah Pasar Ngasem lewat jalan sebelah barat Kraton Yogyakarta, sesampainya di pertigaan Ngasem belok ke kiri (timur), ikuti jalan hingga bertemu barisan tembok putih, dari situ akan ada petunjuk arah ke Taman Sari (Water Castle).

Peta Sumur Gumuling

Kotagede, Sisa Pusat Kota & Pemerintahan Mataram Jawa

kotagede3

Kotagede salah satu tempat penting dan merupakan kota tua yang banyak menyimpan sejarah peradaban Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Selain kini terkenal sebagai penghasil perak unggulan, Kotagede juga menyimpan berbagai bangunan bersejarah. Dahulunya kota daerah ini merupakan pusat kota dan pemerintahan Kerajaan Mataram Islam dibawah kepemimpinan Panembahan Senopati.

Kotagede2

Ada sejumlah peninggalan Kotagede yang sangat menarik, sebagai peninggalan kerajaan Mataram Islam, seperti Makam para Raja, Mesjid Kotagede, rumah tradisional berarsitektur Jawa Mataram, hingga sisa reruntuhan benteng. Area pemakaman menjadi pintu masuk pertama sebelum melanjutkan perjalanan ke spot lainnya  untuk memasuki area ini kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana). Pengunjung diperbolehkan untuk masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat, dengan periode waktu pada pk 08.00 – 16.00. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk memotret dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam. Sejumlah tokoh penting yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan anggota keluarganya.

 

Kotagede4

Di dalam kompleks makam, kita juga bisa menemui mesjid tertua di kota Yogyakarta, yaitu Mesjid Kotagede. Masjid Mataram Kotagede didirikan tahun 1640 atas prakarsa Sultan Agung dan dibantu oleh warga sekitar Kotagede yang saat itu banyak menganut agama Hindu dan Budha. Pengaruh Hindu dan Budha juga dapat terlihat dari berbagai ornamen yang ada di masjid berusia ratusan tahun ini. Di samping kompleks makam, kita juga bisa mendapati tempat pemandian. Ada pemandian khusus pria dan wanita. Dimana air untuk pemandian pria diperoleh dari sumber di dalam kompleks makam. Sementara, air untuk pemandian wanita, diperoleh dari sumber pohon beringin di depan gerbang utama.

Kotagede7

Konon, pohon beringin ini ditanam langsung oleh Sunan Kalijaga dan telah berusia lebih dari 500 tahun. Selain itu, ada sejumlah rumah tradisional Jawa Mataram, yang bisa dilihat di depan kompleks makam. Masih terawat dengan baik dan rumah tradisional ini masih digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat tinggal. Di sebelah barat daya dan tenggara, kita juga bisa menemukan sisa reruntuhan tembok bekas benteng. Reruntuhan ini memiliki ukuran seluas 400 x 400 meter lengkap dengan parit yang dulu digunakan sebagai benteng pertahanan keraton.

Kotagede6

Satu lagi yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke tempat ini adalah Pasar Kotagede, yang merupakan pasar tradisional tertua di Yogyakarta dan sampai saat ini masih beroperasi. Sistem kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, bundaran, dan pasar tradisional di jalur yang membentang dari Selatan ke Utara. Kitab Nagarakertagama yang ditulis di era Kerajaan Majapahit (abad ke-14), mengatakan bahwa pola ini telah digunakan sejak saat itu. Pasar tradisional yang sudah ada sejak era Panembahan Senopati, masih ada sampai sekarang. Setiap legi pagi di sistem penanggalan Jawa, semua penjual, pembeli, dan produk perdagangan ramai bertransaksi di pasar tradisional ini.

Lokasi & Harga Tiket Kotagede

Akses menuju Kotagede Yogyakarta terbilang mudah. Dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta, langsung menuju fly over Janti ke arah Ring Road Blok-O, sesampainya di perempatan Ring Road Blok-O belok kanan atau ambil arah barat menuju Gedong Kuning, dari perempatan Gedong Kuning Lurus hingga bertemu lampu merah, dari lampu merah itu pengunjung akan disambut gapura selamat datang di Kotagede. Atau jika datang dari alun – alun selatan bisa langsung menuju perempatan Plengkung Gading lalu belok kiri (timur) terus sampai melewati XT-Square dan belok kanan tepat di perempatan Kotagede. Tidak ada tiket khusus jika anda berkunjung ke Kotagede, kecuali biaya parkir.

Peta Kotagede