Puncak Suroloyo, Lelah yang Berbayar Indah

Yogyakarta memiliki banyak spot – spot cantik untuk menikmati Sunrise maupun Sunset. Mulai dari background candi, lautan hingga barisan pegunungan. Dan yang satu ini salah satu yang terbaik. Berlokasi di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Yogyakarta. Untuk menuju puncak Suroloyo anda harus menaiki anak tangga yang berjumlah 286 dengan tingkat kemiringan yang lumayan terjal. Untuk sampai ke puncaknya di butuhkan fisik yang prima, dan yang pasti perut tidak boleh dalam keadaan terisi penuh karena dapat menyebabkan mual. Untuk yang biasa trekking rute seperti di Puncak Suroloyo mungkin dapat ditempuh dalam sekali daki tanpe istirahat. Namun utk yang tidak terbiasa sebaiknya tidak perlu terburu – buru, berjalanlah dengan diselingi obrolan dengan teman dan sesekali beristirahat.

Sumber Gbr: piknikasik
Sumber Gbr: piknikasik

Puncak Suroloyo adalah puncak tertinggi di Perbukitan Menoreh, Yogyakarta. Perbukitan yang memiliki ketinggian kurang lebih 2000 meter dpl ini membentang sepanjang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari Puncak Suroloyo, wisatawan bisa melihat Yogyakarta dari atas awan dan bisa melihat langsung keindahan Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di Puncak Suroloyo terdapat tiga buah gardu pandang yang secara umum disebut pertapaan, masing-masing memiliki nama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Selain itu, Bukit Suroloyo juga merupakan tempat yang menyimpan cerita legenda.  Legenda ini mengkisahkan seorang Raden Mas Rangsang yang kemudian hari bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang padanya.

Sumber Gbr: jogjainvest
Sumber Gbr: jogjainvest

Legenda mengenai Puncak Suroloyo bermula dari seorang pujangga bernama Ngabehi Yasadipura dari Keraton Surakarta yang dalam kitabnya berjudul Cabolek. Ia mengisahkan bahwa Raden Mas Rangsang, Putra Mahkota Kerajaan Mataram Islam, pernah menerima wangsit untuk menjadi penguasa tanah Jawa. Raden Mas Rangsang harus berjalan kaki dari keraton di wilayah Kotagede menuju ke arah barat. Setelah menempuh perjalanan dengan jarak sekitar 40 kilometer di wilayah Pegunungan Menoreh, ia jatuh pingsan karena kelelahan. Dalam pingsannya, Raden Mas Rangsang mendapat wangsit yang kedua. Wangsit tersebut memerintahkan agar Raden Mas Rangsang, yang ketika besar bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma, untuk melakukan tapa kesatrian di tempat itu. Tempat itulah yang sekarang disebut dengan Puncak Suroloyo.

Sumber Gbr: swaragamafm
Sumber Gbr: swaragamafm

Ada tiga pendopo di Puncak Suroloyo. Pendopo pertama ialah Pertapaan Suroloyo. Lokasinya Pertapaan Suroloyo berada di paling bawah dibandingkan dengan dua pendopo lainnya. Dari sini wisatawan dapat melihat Candi Borobudur. Pendopo kedua bernama Pertapaan Sariloyo yang terletak 200 meter ke arah barat. Dari Pertapaan Sariloyo, wisatawan bisa memandang Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Untuk mencapai pendopo ketiga, wisatawan harus naik tangga sekitar 200 meter lagi. Pendopo ini diberi nama Pertapaan Kaendran. Dari tempat ini secara samar-samar akan terlihat warna biru berbatas dengan abu-abu yang merupakan Pantai Glagah di Kulonprogo.[Semua pertapaan ini berada dalam satu area berdekatan di kawasan Puncak Suroloyo. Puncak Suroloyo merupakan satu titik temu antara empat gunung, yakni Merapi, Sindoro, Sumbing dan Merbabu.

Lokasi & Harga Tiket Masuk Puncak Suroloyo

Rute yang bisa anda tempuh untuk bisa ke Puncak Suroloyo sejauh  dari arah Jogja melewati jl. Godean terus hingga Balai Desa Sidorejo, dari Balai Desa terus sekitar 1,2 KM bertemu perempatan Sendangarum (Minggir) belok ke kanan. Terus sekitar 1,6 KM bertemu pertigaan belok kiri, dari pertigaan tersebut terus hingga mentok lalu ambil kanan. Ikuti jalan beraspal hingga bertemu perempatan Nanggulan dari perempatan itu jalan yang pegunungan yang berliku akan menyambut anda hingga tiba di puncak Suroloyo. Ikuti jalan sesuai petunjuk arah atau boleh bertanya dengan penduduk sekitar agar tak tersesat. Tiket masuk ke lokasi wisata Puncak Suroloyo sebesar Rp 3.000.

Peta Puncak Suroloyo

Telaga Biru Semin, Indahnya Kolam Sisa Tambang

Jika belum puas dengan Pantai, Gua dan Cave Tubing yang ada di Gunung Kidul masih ada objek wisata yang lainnya, yaitu Telaga Biru. Telaga Biru yang dikenal juga dengan sebutan Blue Lake  ini terletak di Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul. Telaga ini terbentuk karena aktivitas pertambangan Batu Putih yang hingga kini pun kegiatan pertambangan tersebut masih berlangsung meski sudah tidak segencar saat telaga belum di aliri air. Awalnya tempat ini hanyalah sebuah bukit, atau gunung yang di manfaatkan oleh warga sekitar untuk di ambil batunya dan dijadikan kerajinan. Warga menambang bukit yang tingginya sekitar 400 meter dari permukaan laut  untuk diekspor ke berbagai negara. Seiring berjalannya waktu, bukit tersebut semakin hari semakin terbelah dan mulai hilang. Penggalian yang dilakukan teru menerus hingga sampai ke lapisan dasar dimana terdapat sumber air tanah, mengakibatkan keluarnya air dari permukaan dan mulai menggenangi lokasi petambangan.

Telaga Biru3

 

Telaga ini memiliki air yang berwarna biru kehijauan atau yang sering disebut tosca, warna tersebut di akibatkan oleh lumut dan ganggang yang tumbuh di dasaran dan menimbulkan warna saat air terkena pantulan sinar matahari. Terdapat 3 lokasi kolam di telaga ini layaknya telaga warna yang ada di dataran tinggi Dieng. Ke tiga kolam nya sekilas memiliki warna yang berbeda, mulai dari tosca, hijau atau bahkan sedikit kebiruan itu semua disebabkan oleh kadar sinar matahari yang diterima oleh masing – masing kolam berbeda sehingga air tampak warna – warni.

Telaga Biru2

Dari salah satu tebing diantara telaga anda bisa menikmati pemandangan berupa pepohonan hijau yang terbentang luas dengan di kelilingi perbukitan. Tips untuk anda yang mengagendakan lokasi ini sebagai destinasi berakhir pekan, sebaiknya datang disaat pagi atau menjelang sore untuk menghindari teriknya sidan matahari, mengingat di lokasi kolam masih jarang sekali tempat berteduh seperti gazebo layaknya lokasi wisata di Gunung Kidul lainnya. Dapat dimaklumi karena lokasi ini memang hanya dikelola secara mandiri oleh pokdarwis sekitar dan nyaris tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Telaga Biru

Harga Tiket Masuk Telaga Biru Semin

Untuk masuk atau harga tiket masuk telaga biru ini belum dikenai biaya. Hal ini karena memang belum diresmikan sebagai tempat wisata. Namun, masyarakat setempat memberlakukan biaya parkir kendaraan wisatawan yang akan mengunjungi danau ini. Untuk roda dua atau sepeda motor adalah Rp 2.000 dan biaya parkir untuk kendaraan roda empat atau mobil adalah Rp 5.000.

Lokasi Telaga Biru Semin

Jarak yang ditempuh jika anda dari arah Jogja sekitar 60 KM atau ditempuh selama 2 jam. Langsung saja menuju arah Wonosari, sesampainya di wonosari lanjutkan perjalanan menuju pasar semin, setibanya di pasar semin ambil jalan menuju ke Watu Kelir. Kalau dari arah semin menuju Watu Kelir ini maka bisa dikatakan kearah utara. Sebelum watu kelir, anda akan menjumpai Gapura selamat datang di Gunungkidul, atau perbatasan Gunungkidul dengan Jawa Tengah yang masih dalam tahap pembangunan. Dari Gapura perbatasan tersebut lokasi Telaga biru masih lurus.  Sekitar 1 Km dari gapura tersebut ada jembatan, dan pas disetelah jembatan tersebut silahkan ambil kanan. Dari situ silahkan lurus terus, setelah 300 m silahkan ambil kiri dan 200 meter setelahnya sampailah anda di Telaga biru tersebut.

Peta Telaga Biru Semin

Bukit Panguk, Melihat Indahnya Alam Dari Gardu Nginguk

Satu lagi lokasi wisata baru yang berada di Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul. Setelah Kebun Buah Mangunan, Puncak Becici, Curug Lepo dan lainnya, kini muncul satu lagi yakni Bukit Panguk. Terletak di Dusung Kediwung Desa Mangunan Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul, tepatnya di Puncak Bukit Batu Lawang atau sekitar 2 km dari Kebun Buah Mangunan. Objek wisata ini masih tergolong baru karena resmi dibuka tanggal 16 Mei 2016 lalu, dan belum banyak diketahui orang – orang. Dari atas bukit ini anda bisa melihat hijaunya alam, pihak pengelola pun tidak kalah update dengan membangun sebuah gardu pandang yang memang menjadi magnet di beberapa lokasi wisata perbukitan di Jojga. Gardu pandang tersebut di buat di pinggiran bukit dengan sedikit menjorok ke luar, atau orang jogja menyebutnya dengan ‘Nginguk’ yang artinya sedang menegok dengan kepala lebih condong ke depan.

Sumber Gbr: NN
Sumber Gbr: NN

Meskipun terhitung baru sebagai objek wisata, Bukit Panguk sudah menjadi buah bibir di kalangan netizen. Beberapa traveler Jogja sudah mulai membagikan hasil dokumentasinya di beberapa jejaring sosial media. Seketika foto – foto yang tersebar menjadi viral dan memancing rasa penasaran khalayak ramai. Sebenarnya di Jogja sendiri banyak terdapat objek wisata yang menawarkan pemandangan indah lewat gardu pandangnya. Seperti di Kalibiru, Puthuk Setumbu, Puncak Becici dan di hampir semua destinasi yang memiliki ketinggian selalu di sediakan Gardu Pandang untuk daya pikat wisatawan.

Sumber Gbr: Maspeot
Sumber Gbr: Maspeot

Menikmati pagi di tempat ini akan semakin asyik sembari berdiri di gardu pandang atau anjungan kayu yang di bangun langsung di atas tebing. Ada beberapa anjungan/jembatan kayu di tempat ini, baik yang berukuran kecil dan hanya cukup untuk dua orang atau yang berukuran besar dan cukup luas sehingga bisa dinaiki hingga 10 orang. Anjungan-anjungan ini menjadi lokasi favorit untuk berfoto.

Sumber Gbr: viva
Sumber Gbr: viva

Memandang rentetan hijaunya pepohonan di sekitar bukit dan udara yang sejuk menambah keinginan wisatawan untuk segera menginjakkan kaki di wisata yang tergolong masih baru tersebut. Selain itu, wisatawan akan disuguhkan pula dengan pemandangan berupa aliran Kali Oya yang sangat indah. Bahkan pemandangan berupa goa juga dapat diamati dengan seksama di spot tersebut. Yaitu, Goa Pertapaan dan Goa Soo yang keduanya memiliki cerita mistis tersendiri.

Sumber Gbr: dewiandiyah91
Sumber Gbr: dewiandiyah91

Dengan adanya objek wisata baru ini diharapkan dapat memecah ramainya wisatawan yang berkunjung ke Kecamatan Dlingo dan menjadi alternatif jika di salah satu objek wisata seperti di Kebun Buah atau Puncak Becici dipadati wisatawan. Untuk fasilitas di Bukit Panguk ini sudah tersedia Gazebo dan warung warung makan.

Lokasi & Harga Tiket Masuk Bukit Panguk

Lokasinya cukup mudah untuk dijangkau, karena lokasinya yang tak jauh dari kota Jogja, yaitu hanya sekitar 50 menit perjalanan dengan sepeda motor atau sejauh 25 KM. Jika sebelumnya pernah ke Hutan Pinus atau Kebun Buah Mangunan maka anda tak akan kesulitan untuk mencapai tempat ini, karena memang lokasinya Bukit Panguk Kediwung ini terletak dekat dengan Kebun buah Mangunan. Jika belum pernah maka akan coba kami tuntun, melewati Jl. Imogiri Barat terus ke selatan hingga bertemu perempatan Sumberagung ambil kiri atau ke arah timur. Dari situ terus ikuti jalan utama melewati jl. Mangunan. Setibanya di Mangunan anda akan di bantu petunjuk jalan hingga tiba di Bukit Panguk. Untuk bisa masuk dan menikmati pesona Bukit panguk pengunjuk cukup membayar jasa parkir Rp. 2.000/motor dan Rp. 5.000 untuk mobil dan membayar uang retribusi seiklasnya guna pembanguna wisata karena belum ada tarif retribusi.

Peta Bukit Panguk

Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: tisagajogja
Sumber Gbr: tisagajogja

Masih ingat slogan “IJAB QABUL” yang sering terpasang di spanduk – spanduk sepanjang jalan di Yogyakarta? Penyebab utama munculnya spanduk ini adalah karena adanya isu bahwa Presiden ke 6 pada saat itu hendak menghilangkan keistimewaan Yogyakarta, dari Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Provinsi Yogyakarta. Isu ini telah memancing banyak kontroversi hingga terbentuklah relawan dan banyak lembaga lain yang menolak penghapusan ke-istimewa-an Yogyakarta ini bahkan hingga Hamengku Buwana 10 (Sultan Yogyakarta) mengeluarkan Sabdatama (amanah) yang berisikan bahwa “Yogyakarta adalah bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Bersatu tak berarti melebur! ”

Sumber Gbr: shymfony
Sumber Gbr: shymfony

 

Jauh sebelum bersatu dengan NKRI, Yogyakarta telah di akui sebagai sebuah negara berdasarkan perjanjian Giyanti. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alaman yang merupakan cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai “Kerajaan vasal / Negara bagian / Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC hingga Kekaisaran Jepang. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri di bawah pengawasan pemerintah pusat.

Sumber Gbr: jogjatraveling
Sumber Gbr: jogjatraveling

Ketika Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), posisi Negeri Ngayogyakarta dan Pakualaman berada di persimpangan jalan. Antara bergabung dengan NKRI atau membuat negara sendiri yang berdaulat. Kala itu, sebenarnya Yogyakarta secara sistem pemerintahan sudah bisa membuat negara sendiri. Namun pada akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII memutuskan bergabung dengan NKRI.

Sumber Gbr: ranarast
Sumber Gbr: ranarast

Yogyakarta mulai bergabung dengan Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ijab Qabul menjadi analogi  bergabungnya 2 negara menjadi satu. Dan yang dimaksud dengan “Bersatu Tidak Berarti Melebur” adalah meskipun Yogyakarta bergabung dengan Indonesia tidak berarti segala sesuatunya bisa diatur oleh pemerintah pusat, karena pemegang kekuasaan tertinggi di Yogyakarta tetap berada di tangan sang Raja yakni Sri Sultan HB X. Maka dari itu Yogyakarta di beri Mahar berupa daerah setingkat Provinsi yang Istimewa bukan Provinsi.

Sumber Gbr: Liputan6
Sumber Gbr: Liputan6

Bisa dibilang jika tidak ada pengakuan bergabungnya Daerah Istimewa Yogyakarta, maka NKRI juga tidak ada. Saat itu tidak ada satu kerajaan maupun negara – negara bentukan Belanda yang menyatakan bergabung dengan NKRI, sehingga Yogyakarta merupakan wilayah pertama di NKRI. Pernyataan bergabungnya Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI memiliki nilai strategis yang luar biasa, salah satunya menjadikan negara yang baru merdeka ini memiliki wilayah kedaulatan, dan langkah ini pun kemudian diikuti wilayah-wilayah lain termasuk negara – negara atau kerajaan – kerajaan di Nusantara yang dibentuk Belanda. Pengorbanan yang tidak kalah pentingnya adalah ketika NKRI berdiri, maka harus memiliki mata uang,sehingga harus ada jaminan uang emas di Bank Indonesia agar uang dapat dicetak. Dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan ikhlas memberikan emas batangan milik Keraton Yogyakarta sebagai jaminan, dan sampai saat ini pihak keraton tidak pernah mengungkit – ungkit serta meminta kembali.

Dalam sejarahnya Yogyakarta memiliki peranan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949 pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Selama pusat pemerintahan berada di Yogyakarta inilah Sri Sultan HB IX menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak dibayart semenjak Agresi Militer ke-2. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010.

Cave Tubing Kalisuci, Hanya 3 Di Dunia & Salah Satunya di Yogyakarta

Cave tubing merupakan perpaduan antara caving dan body rafting. Jadi bisa dikatakan merupakan aktivitas susur sungai dalam gua dengan menggunakan pelampung. Indonesia khususnya Yogyakarta patut berbangga karena mempunyai objek wisata cave tubing di daerah Gunung Kidul. Mengingat kawasan wisata alam seperti itu hanya dimiliki oleh 3 negara, yaitu Indonesia Mexico dan Selandia Baru. Berada di kawasan Kars Gunungsewu yang telah dilindungi dan diusulkan oleh International Union Speleology (IUS) pada tahun 1993 menjadi salah satu warisan alam dunia.

Sumber Gbr: Alternatifwisata
Sumber Gbr: Alternatifwisata

Kalisuci merupakan nama aliran sungai yang mengalir di Gunungkidul. Seperti karakteristik sungai-sungai yang berada kawasan karst, Kalisuci terbagi menjadi 2 tipe, yakni sungai terbuka yang muncul di permukaan dan sungai tertutup yang mengalir di dalam tanah alias di dalam gua (termasuk mengalir melewati Gua Grubug) dan bermuara di Pantai Baron.

Sumber Gbr: outingjogja
Sumber Gbr: outingjogja

Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. Di kawasan ini wisatawan dapat melakukan aktivitas susur goa dengan menggunakan peralatan khusus seperti perahu karet, tali, dan lain-lain. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan goa kalisuci dengan stalaktit dan stalakmit, keindahan dan kesejukan yang menyatu serta petualangan yang penuh tantangan.

Sumber Gbr: infowisatajogjaku
Sumber Gbr: infowisatajogjaku

Melewati sungai yang mengalir menyusuri goa-goa bawah tanah menjadi salah satu potensi wisata yang ditawarkan tempat ini. Ditemani pemandu Anda akan diajak hanyut ke dalam goa Kalisuci dan Luweng Glatik (goa Glatik). Tak harus bisa berenang, semua pengunjung akan dilengkapi dengan pelampung dan helm sebagai sarana standar keselamatan. Goa ini cukup panjang dengan langit-langit juga cukup tinggi dan kedalaman sungai sekitar 2-3 meter. Sepanjang perjalanan juga akan banyak penjelasan dari pemandu. Di dalam goa cukup gelap dan memang tidak disediakan penerangan demi menjaga ekosistem yang ada di dalam goa.

Sumber Gbr: ohthatisnice
Sumber Gbr: ohthatisnice

Akan tetapi untuk mencoba pengalaman seru Cave Tubing di Kalisuci ini, pengunjung harus setidaknya mengajak minimal 4 orang teman. Karena jika kurang dari 4 orang, maka tidak bisa melakukan cave tubing di Kalisuci. Dan wisata Cave tubing Kalisuci ini akan ditutup saat curah hujan tinggi guna menghindari terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan.

Rute Menuju Kalisuci

Kalisuci terletak di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul sekitar 40 km dari arah Yogyakarta, yang memakan waktu 1,5 – 2 jam perjalanan dari kota Yogyakarta. Dari Jogja menuju Piyungan lanjut ke arah Patuk. Dari Pathuk langsung menuju ke Sambipitu hingga nanti tiba di Hutan Rest Area Bunder. Tak jauh dari Hutan Rest Area Bunder terdapat pertigaan Lanud TNI AU Gading, lurus saja menuju Siyono ke Alun-alun Wonosari arah Baleharjo , Jembatan Jirak Semanu, Perempatan timur Jembatan Jirak ke kanan kemudian Pasar dan Terminal Semanu, Pertigaan Lapangan Tri Wana Sakti ke kanan kemudian setelah ± 800 meter masuk pintu gerbang kawasan wisata Kalisuci di kanan ( Utara ) jalan. Bagi yang ingin menggunakan angkutan umum bisa menggunakan bus dari terminal giwangan hingga simpang lima Wonosari dan dilanjutkan dengan angkutan kota menuju Kecamatan Semanu. Tarif untuk dapat menikmati keseruan Cave Tubing di Kalisuci ini cukup terjangkau, yakni sebesar Rp 70.000 / orang.

Peta Kalisuci

Tlogo Putri, Objek Wisata Andalan Yang Mulai Terlupakan

Bagi anak – anak tahun 90an pasti sangat akrab dengan obyek wisata yang satu ini. Karena bagi sebagian besar anak – anak pada masa itu belum  lengkap rasanya jika saat liburan tidak berwisata ke Telogo Putri. Telogo Putri sendiri merupakan sebuah embung ( tempat penampungan air ) yang terletak di daerah Hargobinangun, Pakem, Sleman.  Disini Anda bisa menyewa kano untuk berkeliling di sekitar telaga atau Anda juga bisa menggunakan bebek air. Selain itu, di kawasan ini terdapat juga taman bermain seperti jungkat-jungkit dan perosotan untuk anak-anak. Daya tarik lain dari lokasi wisata yang satu ini adalah Anda akan menemukan banyak fauna disini. Tlogo Putri memang dijadikan tempat tinggal bagi beberapa ekor monyet liar. Namun Anda tidak perlu takut karena monyet-monyet ini tidak mengganggu dan sudah terbiasa dengan keberadaan manusia disekitarnya.

Sumber Gbr: Wisataku
Sumber Gbr: Wisataku

Pertunjukan seni juga sering diadakan di tempat ini tepatnya setiap seminggu sekali. Seni yang digelar secara bergantian yang menampilkan grup-grup kesenian seperti jathilan, campur sari, topeng ireng, kubro siswo, orkes melayu, dangdutan, pentas di sebiah panggung yang berada di Tlogo Putri. Dan pertunjukan ini dapat anda nikmati secara gratis. Bahkan setiap tahun baru kawasan Telogo Putri menjadi salah satu spot kembang api paling meriah. Berbagai pilihan aktivitas dapat dilakukan di Tlogo Putri ini, mulai dari hanya sekadar berjalan-jalan keliling embung untuk mencari udara segar dan melepas kepenatan, naik kano dan becak air, bermain flying fox, bermain jungkat jungkit dan ayunan, naik bianglala, atau hanya sekadar foto-foto saja. Selain itu fasilitas di luar obyek wisata juga lengkap mulai penginapan kelas mlati dengan harga mulai Rp 45.000 per malam, resto / rumah makan, pusat oleh – oleh, dan dekat dengan obyek wisata yang lain.

Sumber Gbr: Panoramio
Sumber Gbr: Panoramio

Sumber Gbr: yogyatrip Tlogo Putri berada di ketinggian 900 meter di bawah permukaan laut (MDPL), jauh sekitar 10 tahun yang lalu udara di lokasi ini masih terasa dingin meskipun ketinggiannya hanya di bawah 1.000 MDPL, bahkan jika anda menggunakan motor udara dingin sudah akan anda rasakan sejak di Jl. Kaliurang KM 15, jarak sekitar 11 KM dari Telogo Putri. Dan dimalam hari udara akan menjadi lebih dingin hingga kadang udara yang kita hela akan terlihat layaknya asap. Namun kini jangankan di Jl. Kaliurang KM 15, berada di Telogo Putri pun kita tidak akan lagi merasakan udara yang dingin. Mungkin salah satunya disebabkan oleh global warming yang melanda hutan – hutan di sekitar merapi.

Sumber Gbr: Panoramio
Sumber Gbr: Panoramio

Lokasi & Harga Tiket Masuk Tlogo Putri

Terletak di kawasan wisata Kaliurang yang merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Yogyakarta menjadikan akses menuju Tlogo Putri terbilang mudah. Bagi Anda yang membawa kendaraan pribadi cukup menyusuri Jalan Kaliurang atau dari kota jogja anda hanya perlu ke arah UGM, lalu terus saja ikuti jalan Kaliurang hingga anda tiba di Tlogo Putri kurang dari satu jam perjalanan. Sedangkan bagi Anda yang tidak membawa kendaraan pribadi, Anda dapat naik angkutan umum yang melayani trayek jurusan Jogja – Kaliurang. Anda nanti akan diantarkan hingga depan kawasan Tlogo Puti yang juga merupakan terminal Kaliurang. Harga tiket masuk ke lokasi wisata ini hanya dikenakan sebesar Rp 3.000/ orang.

Peta Tlogo Putri

Hutan Wanagama, Jati Londo ‘Milik’ Pangeran Charles

????????????????????????????????????

Bosan dengan hiruk pikuk kota dan tingkat polusi udaranya? Cobalah meluangkan waktu sejenak untuk kembali ke alam bebas. Alam bebas yang dimaksud adalah Hutan Wanagama, salah satu area konservasi yang bisa dijadikan destinasi wisata serta edukasi. Terletak di desa Banaran, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunung kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Hutan wanagama merupakan sarana dan cerminan kepedulian untuk penghijauan khususnya di daerah tandus, dan menjadikan potensi wisata dan penunjang penghasilan wilayah sekitar.

Di Hutan Wanagama terdapat pohon yang membuat tempat wisata ini menjadi mendunia. Tanaman itu merupakan pohon Jati ( Tectona grandis ) yang pada tahun 1989 ditanam oleh Pengeran Charles saat berkunjung ke Wanagama. Konon pohon Jati Londo ini mempunyai hubungan yang unik dengan sang Pangeran karena sewaktu sang Pangeran mengumumkan perpisahannya dengan Ratu Diana, pohon jati ini yang saat itu masih setinggi 1 meter ikut mengering seakan ikut berduka atas perceraian tersebut. Selain Jati Londo, Pangeran Charles juga meninggalkan rute yang menjadi favorit para pengunjung Wanagama. Rute tersebut berawal dari Wisma Cendana dan berakhir di Bukit Hell. Jalan menuju bukit itu hanya sepanjang 50 meter yang di kanan kirinya terdapat banyak pohon cendana.

 

wagama-jogja-stirangga-2

 

Fasilitas yang terdapat di hutan ini diantaranya tersedia camping ground, aula untuk tempat pertemuan, sarana out bond, trek wisma, air bersih, kamar mandi dan lain-lain. Selain itu Hutan Wanagama telah menjadi habitat bagi lebih dari 40 jenis fauna, 65 jenis kayu hutan dan ratusan herba dan tidak kurang dari 1.000 flora. Hutan ini memiliki lebih dari 5 mata air yang tidak kering sepanjang tahun dan telah dimanfaatkan oleh penduduk sekitar. Terdapat spot favorit untuk berselfie, yakni di jembatan Tugel, dinamakan jembatan tugel karena jembatan ini runtuh akibat gempa yang terjadi di Yogyakarta beberapa tahun silam, jembatan ini dulunya digunakan sebagai penghubung Desa Banaran dan Desa Kemuning.

 

Wanagama2

 

Nama Wanagama berasal dari dua kata yakni wana yang artinya hutan dan gama, yang merupakan singkatan dari Gadjah Mada. Jadi jelasnya Wanagama adalah hutan milik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Pembuatan Hutan Wanagama Yogyakarta merupakan ide besar dari Prof. Oemi Hani’in Suseno, salah satu civitas akademika UGM dan peraih penghargaan Kalpataru.

 

Wanagama

 

Awalnya Wanagama dahulu adalah tanah tandus dan gersang. Lalu pada tahun 1964 muncul ide kreatif Prof. Oemi Hani’in Suseno untuk menghijaukan tanah tersebut. Dengan memakai biaya pribadi, ia mulai menanam beberapa jenis pohon di tanah seluas 10 ha itu. Diantara pohon tersebut adalah pohon murbei (Morus Alba) dan beberapa tanaman pioner yang dapat membantu memperbaiki tanah, air dan iklim. Dalam usahanya, ia juga merekrut masyarakat untuk ikut memanfaatkan tanaman-tanaman tersebut dalam menambah pemasukan ekonomi mereka. Sehingga dari Wanagama ada timbal balik kemanfaatan bersama. Hingga seiring berjalannya waktu lama-kelamaan usahanya mendapat bantuan dari masyarakat dan pemerintah, sehingga koleksi tanaman Wanagama kini mencapai 550 variasi dengan luas tanah 600 ha. Dalam perjalanannya, Wanagama telah dikembangkan sebagai sarana pendidikan lingkungan dan rekreasi bagi masyarakat umum.

 

Wanagama-Gunungkidul

 

Lokasi & Harga Tiket Hutan Wanagama

Untuk bisa menuju ke tempat ini jika pengunjung datang dari Yogyakarta maka dapat langsung menuju ke Wonosari, ikuti jalan utama hingga bertemu perempatan Gading, di perempatan tersebut ambil arah kanan menuju desa Banaran yang berjarak 2 km, dari situ pintu gerbang Hutan Wanagama sudah terlihat dengan jelas. Jika menggunakan kendaraan umum bisa menaiki Bus jurusan Yogya Wonosari melalui terminal Giwangan lalun turun di Patuk, kemudian dilanjutkan dengan menaiki angkutan yang menuju ke arah desa Kemuning / Hutan Wanagama, atau bisa menggunakan jasa Ojek. Jarak yang ditempuh sekitar 35 km dari Kota Yogyakarta. Tarif masuk ke Hutan Konservasi ini adalah Rp 5.000.

Peta Hutan Wanagama

Menikmati Kolam Alami di Pantai Wediombo

Pantai Wediombo Gunung Kidul

Belakangan media sosial diramaikan dengan lokasi wisata baru di Gunung Kidul berupa Pantai yang memiliki kolam alam (laguna). Terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, nama Wediombo sendiri diambil dari bahasa jawa yang memiliki arti pasir (wedi) luas (ombo). Pantai yang masih bersih karena belum banyak terjamah wisatawan ini memiliki pasir putih dan bersih yang berasal dari gempuran ombak yang menghantam perbupengunjungn karst disepengunjungrnya. Jika diperhatikan pantai ini sebenarnya tidak seluas namanya. Sebelah barat dan timur pantai ini diapit oleh bukit-bukit karang. Penduduk yang tinggal di wilayah pantai ini mengungkapkan bahwa nama pantai ini sudah diberikan sejak dahulu. Namun dari beberapa orang yang pernah mengunjungi pantai ini menganggap bahwa pantai ini lebih pantas jika diberi nama Teluk Ombo, karena keadaan pantai ini memang sangat menyerupai teluk yang lebar. Batu karang yang mengapit dan air lautnya yang menjorok ke daratan, akan tetapi pantai ini memiliki luas yang lebih lebar dibandingkan dengan teluk biasa.

Pantai ini merupakan teluk yang menghadap ke barat sehingga bisa menyaksikan keindahan sunset dari matahari tenggelam. Keindahan yang dapat dinikmati wisatawan selanjutnya adalah berselancar atau surfing , karena pantai Wediombo ini mempunyai ombak yang besar hingga mencapai 4 meter. Pantai Wediombo berada dibawah permukaan rata-rata tanah sepengunjungr. Untuk mencapai lokasi pantai para pengunjung harus melewati puluhan anak tangga terlebih dahulu. Setelah itu, keindahan panorama pantai Wediombo akan dapat dinikmati dengan leluasa.

Ciri khas Pantai Wediombo adalah gugusan batu karang di beberapa titik sepengunjungr pantai. Batu karang yang kokoh ini bentuknya unik-unik dan kerap dimanfaatkan pengunjung untuk berfoto hingga memancing. Dulunya hanya para penduduk setempat yang mancing di tempat ini, namun sekarang ini menjadi tempat favorit bagi para wisatawan yang hobi memancing. Memancing di bukit karang ini bukan hal yang mudah, karena untuk menjangkau bukit karang ini harus berjalan ke arah timur menyusuri bibir pantai dan harus naik turun untuk sampai ke puncak bukit karang yang langsung berhadapan dengan laut lepas, bagi yang tidak memiliki nyali untuk memancing di bukit karang, pengunjung dapat membeli ikan hasil tangkapan para penduduk.

Di tengah laut yang menjorok agak ke barat pengunjung akan menyaksikan dua buah batu karang yang tidak terlalu besar. Hanya saja, untuk melihat dua buah batu karang yang disebut Watu Manten itu agak susah. Paling tidak, pengunjung harus menunggu saat ombak kembali ke tengah laut, barulah pengunjung akan melihat dua buah batu karang itu berdampingan layaknya pasangan yang sedang duduk di pelaminan. Ada banyak mitos dan kisah dari Watu Manten ini. Ada yang percaya kalau keduanya adalah penjelmaan makhluk, ada pula yang mengaku sebagai penanda restu bagi calon pengantin.

Lokasi & Tiket Masuk Pantai Wediombo

Untuk ke lokasi ini jarak yang harus ditempuh sepengunjungr 75 KM dari pusat kota Yogyakarta. Jalur terdekat menuju tempat ini adalah melalui Jl. Wonosari menuju ke Jl. Raya Semanu (Candirejo), hingga bertemu pertigaan pasar Jepitu, dari situ sudah terdapat petunjuk arah ke Pantai Wediombo.

Tips bagi pengunjung di Pantai ini sebaiknya tidak menggunakan sandal jepit, jalan yang tidak rata serta berbatu menjadi alasan utama. Siapkan Air Mineral dan tissue untuk mengantisipasi jika toilet umum yang disediakan kekurangan air bersih. Harga tiket masuk ke pantai Wediombo Rp 5.000

Pet.a Pantai Wediombo

Mendaki Kemegahan Gunung Api Purba Nglanggeran

Yogyakarta ternyata tak hanya memiliki satu gunung api. Daerah istimewa ini ternyata ada dua buah gunung api jutaan tahun lalu yaitu Gunung Merapi dan Gunung Nglanggeran. Hanya saja, Gunung Api Nglanggeran kini sudah tak aktif lagi dan hanya menyisakan bongkahan batu raksasa dan deretan gunung batu yang berdiri kokoh. Gunung Nglanggeran, menurut beberapa penilitian dulunya merupakan Gunung Api aktif, sehingga saat ini disebut sebagai Gunung Api Purba. Keberadaan Gunung Nganggeran kini mulai terkespose media dan menjadi objek wisata alam yang sangat mengagumkan. Gunung Api Purba Nglanggeran ini memiliki dua puncak yaitu puncak barat dan puncak timur dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Terbentuk dari material vulkanik, Gunung Api ini membentang berderet batuan raksasa yang sangat gagah berdiri dengan pemandangan yang sangat indah.

Gunung api purba nglanggeran
Pemandangan di atas puncak Gunung Nglanggeran

Lokasi Gunung Api purba saat ini dikembangkan untuk wisata outdoor seperti camping, tracking, dan panjat tebing. Sensasi utama yang ditawarkan oleh objek wisata Gunung Nglanggeran adalah jalur pendakian gunung sempit dan terjal yang sangat menantang adrenalin. Pengunjung harus berjalan kaki mendaki dari lembah ke atas gunung dengan memakan waktu sekitar 45 menit – 1 jam perjalanan. Di sepanjang perjalanan, pengunjung hanya dibandtu tali dan tangga sederhana untuk menyusuri jalur. Ada tiga pos gardu pandang, mulai dari rendah, sedang, dan puncak. Meski jalur sempit dan sulit namun setelah sampai di puncak gunung, semua lelah akan terbayarkan. Sebab dari atas gunung ini kita dapat melihat keindahan cakrawala tanpa batas. Keindahan Alam Gunung Kidul terpampang jelas di depan mata. Di sisi selatan terlihat hamparan “hutan” tower dan di bagian barat daya terlihat samar kota jogja. Di puncak gunung yang di sebut Gunung Gede ini pengunjung juga bisa menikmati sensasi sunrise dan sunset yang sangat indah. Sedangkan di malam hari, kita dapat menikmati kerlap kerlip lampu Jogja yang sangat indah.

gunung api purba nglanggeran

Saat ini Gunung Api Purba Nglanggeranmasih dikelola secara mandiri oleh Pokdarwis setempat dan karang taruna. Tempat ini sangat cocok digunakan untuk kegiatan outdoor seperti makrab, kemah, atau outbond. Di sekitar objek wisata Gunung Nglanggeran terdapat beberapa homestay milik penduduk dengan tarif menginap yang sangat murah.

Jalur sempit dan sulit

jalaur pendakian nglanggeran
Hanya dibantu tangga sederhana

Lokasi Gunung Api Purba Nglanggeran & Tiket Masuk

Gunung Api Purba ini hanya terpaut jarak 25 km saja dari pusat kota jogja, tepatnya di Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunung Kidul. petunjuk arah untuk menuju ke lokasi yaitu melewati Jlan Solo kemudian berbelok ke arah Ring Road Timur menuju Jalan Wonosari. Setelah melewati bukit bintang pathuk kemudian ada kantor radio GCD FM ambil belokan kiri kira kira 7 km dari situ sudah sampai ke Gunung Nglanggeran. Harga tiket masuk gunung Nglangeran sebesar Rp.7.000,- untuk sore, dan Rp.9.000,- untuk malam hari. Harga tiket dapat berubah sewaktu – waktu.

Tips berkunjung ke Gunung Api Purba Nglanggeran

  • Sebaiknya berkunjung saat musim kemarau (pas tidak hujan) sebab jika hijan, kondisi medan akan sulit ditempuh karena becek dan licin.
  • Bawa kamera, dan air minum karena di atas Gunung atau sepannjang jalan tidak terdapat penjual.

Peta Gunung Api Purba Nglanggeran

Air Terjun Luweng Sampang, Grand Canyon Ala Gunung Kidul

Kabupaten Gunung Kidul ternyata menyimpan sejuta keindahan alam yang sangat mengagumkan. Tak hanya deretan pantainya yang sangat indah, di balik lekuk Gunungnya ternyata Kabupaten yang terletak di Tenggara Kota Jogja tersebut menyimpan banyak air terjun nan indah. Salah satunya adalah Air terjun Luweng Sampang. Luweng (dalam bahasa Jawa) berarti lubang atau sumur. Begitu juga dengan Luweng Sampang ini terlihat hanya seperti lubang jika diamati dari atas air terjun dengan aliran air yang tidak terlalu deras debit airnya juga cukup kecil.

Air Terjun Luweng Sampang
Air terjun Luweng Sampang

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun ketika kita berada di bawah aliran air terjun, kita akan melihat keindahan air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 8 meter ini. dari bawah kita akan melihat formasi bebatuan yang menjepit air terjun terlihat seperti Grand Canyon di Arizona. Bedanya, Jika Grand Canyon Arizona terbentuk akibat gerusan angin, formasi bebatuan di Luweng Sampang tersebut terjadi akibat gerusan air yang menerpa bebatuan kapur khas Gunung Kidul, sehingga membuat permukaan menjadi berulir dan bermotif. Gesture bebatuan seperti ini memang sangat khas dan dapat kita temui juga di aliran Sungai Oya di dekat goa Pindul.

air terjun Luweng Sampang

Luweng Sampang dari atas

Pengunjug dapat bermain air di sini karena kedalaman kolam air terjun tak terlalu dalam., atau bisa juga mengabadikan foto dan beraksi di atas dinding batu yang indah. Selain air terjun utama, di Luweng Sampang juga terdapat air terjun kecil dan sebuah kolam yang cukup nyaman untuk duduk duduk santai di atas bebatuan. Untuk masuk ke objek wisata alternatif ini Anda hanya perlu membayar tiket masuk secara sukarela karena memang air terjun ini belum mematok tarif retribusi resmi, jadi benar benar masih alami.

Air Terjun Luweng Sampang

Luweng Sampang dari dekat

Rute menuju Luweng Sampang

Untuk menuju ke lokasi Luweng Sampang, kita harus sedikit bekerja keras karena melalui medan yang cukup sulit dan agak pelosok. Air terjun Luweng Sampang ini terletak di Desa Sampang Kecamatan Gedangsari kabupaten Gunung Kidul. Dari arah kota Jogja melewati Jalan Solo ke pertigaan arah gantiwarno (6 KM gapura perbatasan Jogja Jateng) setelah itu ambil arah ke Gantiwarno dan berjalan ke Kantor Kecamatan Gantiwarno. Kemudian menuju ke Desa Jogoprayan dan ikiuti arah sungai yang ada di sekitar situ.sejatinya merupakan nama sebuah Gua unik, namun di dekat gua tersebut terdapat sebuah air terjun yang sangat indah bahkan banyak pelancong menyebutnya sebagai Grand canyon-nya Gunung Kidul.

Peta Luweng Sampang

Lihat juga keindahan Curug Banyunibo