Kampung Cyber, Kampung Kecil di Jogja Yang Mendunia

Akses menuju Kampung Cyber Jogja memang cukup menantang. Jalanan di sana terbilang sempit, bahkan mobil pun tak muat untuk masuk, sebab jalanan yang terseda hanya untuk motor dan sepeda saja. Jadi saat menuju kampong ini, pengunjung yang membawa mobil mesti memarkirkan mobilnya terlebih dulu di area parkiran tempat wisata pemandian di Taman Sari, yakni sebuah tempat bekas pemandian dari ratu di zaman kerajaan dulu. Kampung Cyber merupakan destinasi tempat wisata kampong yang berada di tengah pusat kota Yogyakarta. Dengan jaraknya dari pemandian Taman Sari hanya berjarak 50 meter saja.

Source by: kanaljogja
Source by: kanaljogja

Kampung Cyber yang terkenal di Jogjakarta ini adalah salah satu desa atau kampong yang telah didesin oleh Pemda DIY bersama dengan warga setempat untuk dijadikan sebuah objek wisata. Dimana Kampung Cyber ini telah didirikan oleh Antonius Sasongko, sejak tahun 2006 lalu. Sebenarnya kampong ini hanya memiliki satu RW saja di area kampong wisata pemandian Taman Sari. Tak hanya Kampung Cyber saja, terdapat pula berjajar RW yang lainnya yang didesain dengan nuansa kampung berciri khas etnik Jawa demi menarik para wisatawan.

Kampun Cyber, Kampungnya Orang-Orang Melek Teknologi

Source by: rt36kampoengcyber
Source by: rt36kampoengcyber

Kampung Cyber sendiri merupakan kampung wisata satu-satunya yang ada di kawasan tersebut dan terbilang cukup populer. Apalagi semejak kampung ini telah diblusuki oleh pendiri Facebook atau CEO facebook, yakni Mark Zuckerberg. Sekaligus sebagai kampung satu-satunya yang meraih penghargaan dari AJE Indonesia, yakni produsen dari minuman ringan dengan hibah sebesar Rp. 100 juta ditujukan untuk pembekalan terhadap infrastruktur internet.

Seperti kita ketahui, bahwa warga yang ada di kampung tersebut hampir semuanya melek teknologi. Hal tersebut bisa dilihat dari masing-masing rumah yang ada di kampung ini sudah terpasang koneksi jaringan internet. Tak tanggung-tanggung, di area pos ronda kampung pun telah terpasang hotspot gratis khusus bagi warga RW 36 ini. Jadi tak heran jika anak-anak SD sudah mahir untuk berselancar di internet.Pasalnya hampir di tiap sore hari, anak-anak SD dari RW 36 selalu berkumpul di area pos ronda hanya untuk berselancar di dunia maya. Di dunia maya sendiri, warga yang ada di Kampung Cyber tersebut membangun sebuah situs dengan link www.rt36kampoengcyber.com.

Source by: jadiberita
Source by: jadiberita

Adapun di situs tersebut terdapat berbagai macam produk kerajinan handmade serta toko online para warga yang ada di Kampoeng Cyber Jogja.Sebenarnya rumah warga yang ada di Kampung Cyber ini juga tidak begitu mewah bahkan sangat sederhana. Dimana hampir semua rumah di sana begitu sederhana dengan nuansa khas etnik Jawa yang kental. Bahkan jarak rumah satu dengan jarak rumah lainnya amat berdekatan seperti tak berjarak. Tapi tenang saja, blusukan ke Kampung Cyber ini tak akan membuat Anda enggan sebab lingkungan disini begitu bersih.
Anda tak akan pernah melihat sampah berserakan dipinggir jalan.

Keseluruhan dari rumah warga yang ada di kampung ini telah dilengkapi kabel-kabel untuk jaringan, sehingga memudahkan seluruh warga agar bisa mengakses internet. Dimana jaringan internet pada tiap rumah warga ini berpusat serta dikendalikan langsung dari tempat tinggal ketua RTnya. Melalui konsep tersebut, akses menuju dunia maya tentunya tak lagi hanya dinikmati para warga di area perkotan saja. Melainkan internet sebagai bentuk hasil perkembangan teknologi di zaman modern kini bisa merangkul para warga di perkampungan.

Source by: rt36kampoengcyber
Source by: rt36kampoengcyber

Nuansa Etnik Jawa yang Kental di Rumah-Rumah Warga

Satu hal lagi yang membuat kita menarik berkunjung ke kampung ini adalah terdapat tembok jalanan maupn tembok yang ada di beberapa unit rumah warga tampak mural. Dengan gambar yang unik tersimpan pesan yang edukatif. Dimana semua gambar tersebut bernuansa khas etnik Jawa, seolah-olah menunjukkan jati diri atau identitas dari Kampung Cyber Jogja yang sebenarnya.

Pasar Seni Gabusan, Surganya Kerajinan Bantul

Berkunjung ke salah satu destinasi wisata belumlah lengkap jika anda belum berbelanja hasil kerajinan daerah tersebut, salah satunya jika anda menggunjungi Bantul, Jogjakarta. Di Bantul terdapat pasar seni yang sangat terkenal dan disukai wisatawan yaitu Pasar Seni Gabusan, Surganya Kerajinan Bantul. Pasar seni ini menyediakan berbagai macam kerajinan tangan asli karya masyarakat Bantul yang tentunya wajib anda tengok. Letak pasar seni ini juga terbilang cukup strategis yakni di Jalan Parangtritis KM 9 Desa Gabusan, Bantul, Jogjakarta.

Source by: kompastravelfair
Source by: kompastravelfair

Menjajakan Berbagai Jenis Kerajinan

Didirikan pada tahun 2004 dan menempati luas sebesar 4,5 hektar membuat Pasar Gabusan ini mampu menampung sebanyak 400 pedagang dan pengrajin yang dikelompokkan ke dalam 16 los. Pengelompokkan los ini juga disesuaikan dengan bahan baku atau jenis barang yang dijual di pasar seni ini. Adanya pengelompokkan memiliki tujuan agar pada wisatawan yang berkunjung dan hendak berbelanja dapat dengan mudah menemukan tempat yang menjual jenis barang kerajinan yang mereka cari.

Mulai dari los 1 sampai los 3 anda akan menemukan para pengrajin yang menjajakan produk kerajinan berbahan kulit. Di sini anda dapat menemukan berbagai macam bahan dasar kulit yang digunakan seperti kulit lembu dan kulit domba. Jenis barang kerajinan yang dijual pun juga beragam yakni mulai dari kipas tradisional, dompet, lukisan kaligrafi dari kulit, pembatas buku dan juga wayang serta beberapa kerajinan lainnya yang berbahan dasar kulit.

Source by: gabusan08
Source by: gabusan08

Sampai pada los 4 dan 5 anda akan disuguhkan dengan beragam produk kerajinan bertema batik yang tentunya ramah kantong dengan beragam design. Di los ini anda akan menemukan berbagai macam produk kerajinan dengan tema dan motif batik yang beragam. Barang yang dijajakan pun juga beragam bukan hanya mengusung konsep tradisional, tetapi ada pula konsep modern yang diberikan pula pada produk yang dijual.

Untuk di los lainnya seperti los 10 dan 11 anda akan dimanjakan dengan pemandangan berbagai macam produk kerajinan topeng dengan berbagai warna dan design yang dapat anda bawa pulang sebagai hiasan rumah anda. Kerajinan topeng ini sebagian besar berbahan dasar kayu yang dicat dan dilukis dengan motiv batik yang beragam, sehingga memberikan kesan etnik yang kental. Tak ketinggalan pada los 8 anda akan menemukan berbagai kerajinan muali dari yang simpel sampai dengan ukiran yang terlihat sulit dan mendetail. Barang-barang ini dapat anda jadikan oleh-oleh untuk penghias rumah anda.

Source by: pastvnews
Source by: pastvnews

Selain itu ada pula beberapa kerajinan perak, logam dan tembaga yang dapat anda temukan. Beberapa lukisan karya seniman Bantul juga tak kalah memeriahkan pasar ini. Untuk produk yang didatangkan dari luar Bantul juga sangat menarik untuk dilirik seperti tas dan sepatu kulit. Tentunya barang-barang kerajinan tersebut sangat sayang anda lewatkan ketika anda berkunjung ke Bantul.

Keistimewaan Pasar Seni Gabusan

Pasar seni ini sebenarnya tidak hanya menyediakan beragam produk kerajinan, tetapi juga dapat menjadi objek wisata yang menarik. Didesign dengan mencampurkan unsur budaya tradisional dan modern Pasar Seni Gabusan ini sangat memanjakan mata pengunjung. Terlebih lagi dengan adanya workshop membatik yang disediakan sebagai suatu kegiatan rekreasi yang menarik minat wisatawan, dan makin membuat pasar ini semakin istimewa. Tentunya juga anda tidak akan kebingungan ketika ingin berbelanja buah tangan asli dari Bantul karena di pasar ini tersedia berbagai macam produk dengan harga yang bersaing.

Fasilitas Lainnya di Pasar Seni Gabusan

Pasar seni yang mengusung perpaduan unsur tradisional dan modern ini juga memberikan fasilitas lengkap yang dapat dinikmati pengunjung. Beberapa fasilitas yang terdapat di Pasar Seni Gabusan ini antara lain tempat parkir, musholla, internet gratis, tempat bermain, pusat perbelanjaan kebutuhan sehari-hari, restoran dan sebagainya. Pastinya semua fasilitas yang tersedia di sini akan membuat anda merasa betah berlama-lama berada di Pasar Seni Gabusan ini.

Demikian beberapa ulasan menarik mengenai Pasar Seni Gabusan, Surganya Kerajinan Bantul yang dapat menjadi referensi bagi anda yang ingin berbelanja kerajian seni khas Bantul. Berbagai macam produk dan fasilitas di Pasar Seni Gabusan ini tentunya sangat sayang anda lewatkan begitu saja ketika anda berkunjung ke Bantul. Jadi, jangan lupa untuk mampir dan membeli kerajinan cantik khas Bantul di Pasar Seni Gabusan ini, ya.

Candi Ijo, Candi Tertinggi di Jogja

Candi Ijo merupakan salah satu candi Hindu yang letaknya diatas perbukitan, atau lebih tepatnya di 425 meter diatas permukaan laut (MDPL). Candi yang diperkirakan dibuat pada abad ke 10 ini merupakan candi bercorak Hindu yang di bangun pada masa Kerajaan Medang. Letaknya di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Dinamakan Candi Ijo dikarenakan keberadaannya yang terletak di atas bukit bernama Gumuk Ijo. Wilayah Gumuk Ijo sendiri masih merupakan bagian dari perbukitan Batur Agung dan hanya berjarak sekitar 4 Kilo Meter dari Istana Ratu Boko.

Sumber Gbr: jogja.lungo
Sumber Gbr: jogja.lungo

Karena letaknya yang di perbukitan membuat panorama di sekitarnya begitu indah, dari sini anda akan dimanjakan dengan pemandangan kota Jogja hingga pantai Selatan. Luas dataran di area candi sendiri  sekitar 0,8 hektar. Namun ada dugaan komplek Candi Ijo memiliki area yang lebih luas hingga menjorok ke bagian barat hingga utara candi. Ini dibuktikan dengan adanya artefak – artefak yang ditemukan oleh warga saat area sebelah utara di explorasi oleh warga yang dipastikan memiliki keterkaitan dengan Candi Ijo.

Sumber Gbr: nolkmjogja
Sumber Gbr: nolkmjogja

Secara keseluruhan, kompleks candi merupakan teras-teras berundak, dengan bagian terbawah di sisi barat dan bagian tertinggi berada pada sisi timur, mengikuti kontur bukit. Kompleks percandian utama berada pada ujung timur. Di bagian barat terdapat reruntuhan bangunan candi yang masih dalam proses ekskavasi dan belum dipugar. Setelah disela oleh kebun kecil, terdapat teras yang lebih tinggi dengan cukup banyak reruntuhan yang diperkirakan berasal dari sekumpulan candi-candi pemujaan kecil (candi perwara). Salah satu candi ini telah dipugar pada tahun 2013.

Sumber Gbr: dandhyphotowork
Sumber Gbr: dandhyphotowork

Kompleks percandian utama terletak di bagian timur menempati teras tertinggi. Di bagian ini ada candi induk yang salah satunya telah di pugar diantaranya candi pengapit, dan candi perwara. Candi induk yang sudah selesai dipugar menghadap ke barat. Di bagian depannya berjajar tiga candi yang lebih yang lebih kecil ukurannya yang diduga dibangun untuk memuja Trimurti yakni Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Ketiga candi perwara ini menghadap ke arah candi utama, yaitu menghadap ke timur. Ketiga candi kecil ini memiliki ruangan di dalamnya dan terdapat jendela kerawangan berbentuk belah ketupat di dindingnya. Atap candi perwara ini terdiri atas tiga tingkatan yang dimahkotai barisan ratna. Candi perwara yang berada di tengah melindungi arca lembu Nandini, kendaraan Dewa Syiwa.

Sumber Gbr: lookjogja
Sumber Gbr: lookjogja

Objek wisata Candi Ijo sendiri berdekatan dengan destinasi wisata baru yakni Tebing Breksi,  sebelum anda tiba di Candi Ijo di sebelah kiri jalan akan tampak tumpukan sebuah bukit batu kapur yang ditambang oleh masyarakat sekitar dan saat ini di fungsikan sebagai tempat wisata serta panggung kesenian seperti kuda lumping dan kesenian – kesenian lainnya. Jadi tidak ada salahnya jika sebelum atau sesudah mengunjungi Candi Ijo anda bisa sekalian mampir ke Tebing Breksi.

Lokasi dan Harga Tiket Masuk Candi Ijo

Dari arah kota Jogja anda bisa langsung mengambil arah ke Candi Prambanan melalui Jalan Solo, sesampainya di pertigaan lampu merah Candi Prambanan (setelah jembatan), belok kanan ke Jalan Piyungan searah jika anda ingin ke Istana Ratu Boko. Dari Gerbang Istana Ratu Boko masih terus ke Selatan sekitar 1,5 Kilo Meter sampai bertemu perempatan lalu belok kiri. Terus ikuti jalan hingga mentok lanjut belok kanan. Dari sini anda tinggal ikuti jalan hingga akhirnya tiba di gerbang Candi Ijo. Harga tiket untuk masuk ke Candi Ijo adalah sebesar Rp 5.000.

Peta Candi Ijo

Telaga Biru Semin, Indahnya Kolam Sisa Tambang

Jika belum puas dengan Pantai, Gua dan Cave Tubing yang ada di Gunung Kidul masih ada objek wisata yang lainnya, yaitu Telaga Biru. Telaga Biru yang dikenal juga dengan sebutan Blue Lake  ini terletak di Dusun Ngentak, Desa Candirejo, Kecamatan Semin, Kabupaten Gunung Kidul. Telaga ini terbentuk karena aktivitas pertambangan Batu Putih yang hingga kini pun kegiatan pertambangan tersebut masih berlangsung meski sudah tidak segencar saat telaga belum di aliri air. Awalnya tempat ini hanyalah sebuah bukit, atau gunung yang di manfaatkan oleh warga sekitar untuk di ambil batunya dan dijadikan kerajinan. Warga menambang bukit yang tingginya sekitar 400 meter dari permukaan laut  untuk diekspor ke berbagai negara. Seiring berjalannya waktu, bukit tersebut semakin hari semakin terbelah dan mulai hilang. Penggalian yang dilakukan teru menerus hingga sampai ke lapisan dasar dimana terdapat sumber air tanah, mengakibatkan keluarnya air dari permukaan dan mulai menggenangi lokasi petambangan.

Telaga Biru3

 

Telaga ini memiliki air yang berwarna biru kehijauan atau yang sering disebut tosca, warna tersebut di akibatkan oleh lumut dan ganggang yang tumbuh di dasaran dan menimbulkan warna saat air terkena pantulan sinar matahari. Terdapat 3 lokasi kolam di telaga ini layaknya telaga warna yang ada di dataran tinggi Dieng. Ke tiga kolam nya sekilas memiliki warna yang berbeda, mulai dari tosca, hijau atau bahkan sedikit kebiruan itu semua disebabkan oleh kadar sinar matahari yang diterima oleh masing – masing kolam berbeda sehingga air tampak warna – warni.

Telaga Biru2

Dari salah satu tebing diantara telaga anda bisa menikmati pemandangan berupa pepohonan hijau yang terbentang luas dengan di kelilingi perbukitan. Tips untuk anda yang mengagendakan lokasi ini sebagai destinasi berakhir pekan, sebaiknya datang disaat pagi atau menjelang sore untuk menghindari teriknya sidan matahari, mengingat di lokasi kolam masih jarang sekali tempat berteduh seperti gazebo layaknya lokasi wisata di Gunung Kidul lainnya. Dapat dimaklumi karena lokasi ini memang hanya dikelola secara mandiri oleh pokdarwis sekitar dan nyaris tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Telaga Biru

Harga Tiket Masuk Telaga Biru Semin

Untuk masuk atau harga tiket masuk telaga biru ini belum dikenai biaya. Hal ini karena memang belum diresmikan sebagai tempat wisata. Namun, masyarakat setempat memberlakukan biaya parkir kendaraan wisatawan yang akan mengunjungi danau ini. Untuk roda dua atau sepeda motor adalah Rp 2.000 dan biaya parkir untuk kendaraan roda empat atau mobil adalah Rp 5.000.

Lokasi Telaga Biru Semin

Jarak yang ditempuh jika anda dari arah Jogja sekitar 60 KM atau ditempuh selama 2 jam. Langsung saja menuju arah Wonosari, sesampainya di wonosari lanjutkan perjalanan menuju pasar semin, setibanya di pasar semin ambil jalan menuju ke Watu Kelir. Kalau dari arah semin menuju Watu Kelir ini maka bisa dikatakan kearah utara. Sebelum watu kelir, anda akan menjumpai Gapura selamat datang di Gunungkidul, atau perbatasan Gunungkidul dengan Jawa Tengah yang masih dalam tahap pembangunan. Dari Gapura perbatasan tersebut lokasi Telaga biru masih lurus.  Sekitar 1 Km dari gapura tersebut ada jembatan, dan pas disetelah jembatan tersebut silahkan ambil kanan. Dari situ silahkan lurus terus, setelah 300 m silahkan ambil kiri dan 200 meter setelahnya sampailah anda di Telaga biru tersebut.

Peta Telaga Biru Semin

Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: tisagajogja
Sumber Gbr: tisagajogja

Masih ingat slogan “IJAB QABUL” yang sering terpasang di spanduk – spanduk sepanjang jalan di Yogyakarta? Penyebab utama munculnya spanduk ini adalah karena adanya isu bahwa Presiden ke 6 pada saat itu hendak menghilangkan keistimewaan Yogyakarta, dari Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Provinsi Yogyakarta. Isu ini telah memancing banyak kontroversi hingga terbentuklah relawan dan banyak lembaga lain yang menolak penghapusan ke-istimewa-an Yogyakarta ini bahkan hingga Hamengku Buwana 10 (Sultan Yogyakarta) mengeluarkan Sabdatama (amanah) yang berisikan bahwa “Yogyakarta adalah bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Bersatu tak berarti melebur! ”

Sumber Gbr: shymfony
Sumber Gbr: shymfony

 

Jauh sebelum bersatu dengan NKRI, Yogyakarta telah di akui sebagai sebuah negara berdasarkan perjanjian Giyanti. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alaman yang merupakan cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai “Kerajaan vasal / Negara bagian / Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC hingga Kekaisaran Jepang. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri di bawah pengawasan pemerintah pusat.

Sumber Gbr: jogjatraveling
Sumber Gbr: jogjatraveling

Ketika Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), posisi Negeri Ngayogyakarta dan Pakualaman berada di persimpangan jalan. Antara bergabung dengan NKRI atau membuat negara sendiri yang berdaulat. Kala itu, sebenarnya Yogyakarta secara sistem pemerintahan sudah bisa membuat negara sendiri. Namun pada akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII memutuskan bergabung dengan NKRI.

Sumber Gbr: ranarast
Sumber Gbr: ranarast

Yogyakarta mulai bergabung dengan Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ijab Qabul menjadi analogi  bergabungnya 2 negara menjadi satu. Dan yang dimaksud dengan “Bersatu Tidak Berarti Melebur” adalah meskipun Yogyakarta bergabung dengan Indonesia tidak berarti segala sesuatunya bisa diatur oleh pemerintah pusat, karena pemegang kekuasaan tertinggi di Yogyakarta tetap berada di tangan sang Raja yakni Sri Sultan HB X. Maka dari itu Yogyakarta di beri Mahar berupa daerah setingkat Provinsi yang Istimewa bukan Provinsi.

Sumber Gbr: Liputan6
Sumber Gbr: Liputan6

Bisa dibilang jika tidak ada pengakuan bergabungnya Daerah Istimewa Yogyakarta, maka NKRI juga tidak ada. Saat itu tidak ada satu kerajaan maupun negara – negara bentukan Belanda yang menyatakan bergabung dengan NKRI, sehingga Yogyakarta merupakan wilayah pertama di NKRI. Pernyataan bergabungnya Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI memiliki nilai strategis yang luar biasa, salah satunya menjadikan negara yang baru merdeka ini memiliki wilayah kedaulatan, dan langkah ini pun kemudian diikuti wilayah-wilayah lain termasuk negara – negara atau kerajaan – kerajaan di Nusantara yang dibentuk Belanda. Pengorbanan yang tidak kalah pentingnya adalah ketika NKRI berdiri, maka harus memiliki mata uang,sehingga harus ada jaminan uang emas di Bank Indonesia agar uang dapat dicetak. Dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan ikhlas memberikan emas batangan milik Keraton Yogyakarta sebagai jaminan, dan sampai saat ini pihak keraton tidak pernah mengungkit – ungkit serta meminta kembali.

Dalam sejarahnya Yogyakarta memiliki peranan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949 pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Selama pusat pemerintahan berada di Yogyakarta inilah Sri Sultan HB IX menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak dibayart semenjak Agresi Militer ke-2. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010.

Sumur Gumuling, Masjid Tua Dengan Arsitektur Yang Luar Biasa

gumuling

 

Masih merupakan bagian dari kompleks pesanggrahan Taman Sari Yogyakarta, Sumur Gumuling merupakan masjid yang di bangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Kompleks Tamansari dibangun atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758 M. Untuk menuju Sumur Gumuling dulu ada dua buah jalan yaitu melalui gerbang barat dan gerbang timur. Sebenarnya gerbang – gerbang ini adalah bagian dari urung – urung (gorong – gorong). Gerbang barat saat ini hanya tinggal sisa – sisanya saja karena telah runtuh sehingga tidak mungkin dilewati, sedangkan gerbang timur masih dalam kondisi yang cukup baik dan urung – urungnya pun masih bisa dilewati. Menurut cerita yang beredar jika berjalan melalui gerbang timur menuju gerbang barat maka akan sampai ke laut selatan.

Terdiri dari 2 lantai, pada masanya lantai 2 diperuntukan untuk imam dan jemaah pria, sedangkan lantai dasar diperuntukan untuk jemaah wanita. Meski berada di lantai bawah cahaya dan udara tetap masuk dengan baik disebabkan design ruang tengah yg seperti cincin memiliki atap terbuka sehingga udara dan cahaya bisa masuk dengan leluasa. Inilah yang membuat design / bentuk masjid Sumur Gumuling banyak membuat orang terkagum – kagum.

 

Sumurgumuling (5)

 

Selama ini memang belum diketahui secara pasti siapa arsitek yang membangun Tamansari.
Namun, menurut ahli dari luar negeri J Groneman, Pesanggrahan Tamansari dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pelaksananya adalah Tumenggung Mangun dipuro dan di bantu Lurah Dawelengi. Dalam tulisannya, J Groneman mengatakan, dalam proses pembangunan, Tumenggung Mangundipuro dua kali ke Batavia untuk mencari inspirasi bangunan gaya Eropa. Karena itu, bangunan Pesanggrahan Tamansari memiliki gaya Jawa dan Eropa.

 

Sumurgumuling (2)

 

Sumur Gumuling memiliki ketebalan tembok kurang lebih 1,25 meter. Sebab di sebelah utara, barat, dan selatan Sumur Gumuling dahulu merupakan segaran atau lautan, istilah orang jaman dahulu untuk menyebut kolam besar tempat penampungan air. Adanya air di sekeliling Masjid Sumur Gumuling ini menunjukkan arsitek masjid ini mengacu pada Alquran surah an – Nisa (4) ayat 13 dan surah al – Fath (48) ayat 17. Dalam kedua ayat tersebut diterangkan bahwa di bawah surga mengalir sungai – sungai. Sedangkan, letak Sumur Gumuling berada di tengah kolam segaran. Letak Sumur Gumuling yang dikelilingi air membuat udara di dalamnya sejuk sehingga sangat nyaman dan bisa digunakan untuk melaksanakan ibadah lima waktu dengan khusyuk. Meskipun Sumur Gumuling dikelilingi air, bangunannya tidak runtuh karena temboknya setebal 1,25 meter dan pembangunannya tidak menggunakan semen. Kolam segaran ini dihubungkan dengan kolam segaran yang mengelilingi Pulo Gedong yang luasnya 155×125 meter.

 

gumuling3

Air untuk memenuhi dua kolam segaran ini diambil dari Sungai Winongo dan Gajah Wong. Bekas saluran airnya masih ada, yakni berukuran 30×360 meter yang memotong jalan di sebelah utara Regol Gadung Mlati. Sehingga, jalan tersebut dilengkapi dengan jembatan gantung. Sedangkan di sebelah barat jembatan gantung ada panggung yang digunakan untuk melihat aktivitas perahu di kolam segaran.

 

gumuling4

Lokasi Sumur Gumuling

Lokasi Sumur Gumuling sendiri berada tepat di utara pemandian taman sari, atau bisa juga jika pengunjung memasukinya lewat Pasar Ngasem karena posisinya tepat di sebelah selatannya. Untuk yang belum tahu lokasi Taman Sari bisa melalui Alun – alun Utara ambil arah Pasar Ngasem lewat jalan sebelah barat Kraton Yogyakarta, sesampainya di pertigaan Ngasem belok ke kiri (timur), ikuti jalan hingga bertemu barisan tembok putih, dari situ akan ada petunjuk arah ke Taman Sari (Water Castle).

Peta Sumur Gumuling

Museum Gambar 3D Terbesar Dunia Ternyata Ada di Jogja

Museum 3D De Mata Trick Eye – Siapa sangka, selain menyimpan beragam wisata budaya dan seni, Kota Jogja ternyata memiliki objek wisata baru terbesar di dunia. Adalah Museum gambar 3D De Mata yang menjadi museum terbesar di dunia untuk menyimpan gambar 3D. Fakta tersebut bukanlah sebuah isapan jempol, sebab menurut survey yang telah dilakukan oleh dinas pariwisata di berbagai negara, De Mata memiliki koleksi gambar 3D yang paling banyak. Selain itu De Mata merupakan museum permanen yang setiap saat dapat dikunjungi, seangkan di negara negara lain, pameran lukisan/gambar 3D hanya bersifat insidental atau hanya temporer. Museum de Mata memiliki luas 1600 meter persegi yang berlokasi di XT Square Jogjakarta. Jumlah lukisannya saat ini berkisar 130 gambar yang ditempatkan pada ruang pamer berbentuk labirin.

De Mata 3D Trick eye
Gambar 3D sangat Dramatis

Memanjakan mata di museum De Mata Trick Eye
Museum De Mata memang menjadi spot wisata baru yang menjadi favorit wisatawan yang berkunjung ke Jogjakarta. Di tempat ini pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai gambar atau lukisan 3D yang sangat menabjubkan. Gambar tersebut memang dibuat sedemikan rupa agar tampak hidup, sehingga pengunjung dapat berinteraksi dengan karakter yang ada di gambar. Seperti yang telah dijelaskan di atas, Museum De Mata memiliki koleksi Gambar 3D lebih dari 130 buah. Gambar tersebut terdiri dari banyak “genre” seperti pemandangan, fauna, olahraga, musik, super hero, dll. Untuk mengantisipasi rasa bosan pada pengunjung, museum ini mengganti gambar/lukisan secara berkala. Sebagian besar gambar berukuran cukup besar yaitu tinggi 1,4 meter dengan panjang bervariasi bahkan ada yang sampai 5 meter. Jika mengunjungi museum ini, bisa dipastikan pengunjung akan betah berlama lama karena akan mengabadikan setiap momen untuk berfoto dengan gambar 3D yang seolah membuat pengunjung berada di dimensi lain.

museum de mata
Pengunjung dapat berinteraksi dengan Gambar 3D seolah olah berada di dimensi lain

 

Lokasi Museum De Mata dan Harga Tiket Masuk

Museum de Mata terletak di kawasan XT square basement area Jalan Veteran 016/05 Umbulharjo Yogyakarta tepatnya di bekas terminal lama Umbulharjo. Jika diakses dari pusat kota jogja (0 kilometer) ambil arah lurus ke Timur hingga sampai ke perempatan pabrik susu SGM ambil kanan lurus ikuti jalan ada perempatan ambil kanan. Untuk harga tiket masuk ke museum De Mata cukup terjangkau yaitu Rp. 25.000 – 40.000 per orang (weekdays) & Rp. 40.000 – Rp 60.000. Museum ini buka dari jam 10.00-22.00.

Peta Museum De Mata

Air Terjun Luweng Sampang, Grand Canyon Ala Gunung Kidul

Kabupaten Gunung Kidul ternyata menyimpan sejuta keindahan alam yang sangat mengagumkan. Tak hanya deretan pantainya yang sangat indah, di balik lekuk Gunungnya ternyata Kabupaten yang terletak di Tenggara Kota Jogja tersebut menyimpan banyak air terjun nan indah. Salah satunya adalah Air terjun Luweng Sampang. Luweng (dalam bahasa Jawa) berarti lubang atau sumur. Begitu juga dengan Luweng Sampang ini terlihat hanya seperti lubang jika diamati dari atas air terjun dengan aliran air yang tidak terlalu deras debit airnya juga cukup kecil.

Air Terjun Luweng Sampang
Air terjun Luweng Sampang

 

 

 

 

 

 

 

 

Namun ketika kita berada di bawah aliran air terjun, kita akan melihat keindahan air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 8 meter ini. dari bawah kita akan melihat formasi bebatuan yang menjepit air terjun terlihat seperti Grand Canyon di Arizona. Bedanya, Jika Grand Canyon Arizona terbentuk akibat gerusan angin, formasi bebatuan di Luweng Sampang tersebut terjadi akibat gerusan air yang menerpa bebatuan kapur khas Gunung Kidul, sehingga membuat permukaan menjadi berulir dan bermotif. Gesture bebatuan seperti ini memang sangat khas dan dapat kita temui juga di aliran Sungai Oya di dekat goa Pindul.

air terjun Luweng Sampang

Luweng Sampang dari atas

Pengunjug dapat bermain air di sini karena kedalaman kolam air terjun tak terlalu dalam., atau bisa juga mengabadikan foto dan beraksi di atas dinding batu yang indah. Selain air terjun utama, di Luweng Sampang juga terdapat air terjun kecil dan sebuah kolam yang cukup nyaman untuk duduk duduk santai di atas bebatuan. Untuk masuk ke objek wisata alternatif ini Anda hanya perlu membayar tiket masuk secara sukarela karena memang air terjun ini belum mematok tarif retribusi resmi, jadi benar benar masih alami.

Air Terjun Luweng Sampang

Luweng Sampang dari dekat

Rute menuju Luweng Sampang

Untuk menuju ke lokasi Luweng Sampang, kita harus sedikit bekerja keras karena melalui medan yang cukup sulit dan agak pelosok. Air terjun Luweng Sampang ini terletak di Desa Sampang Kecamatan Gedangsari kabupaten Gunung Kidul. Dari arah kota Jogja melewati Jalan Solo ke pertigaan arah gantiwarno (6 KM gapura perbatasan Jogja Jateng) setelah itu ambil arah ke Gantiwarno dan berjalan ke Kantor Kecamatan Gantiwarno. Kemudian menuju ke Desa Jogoprayan dan ikiuti arah sungai yang ada di sekitar situ.sejatinya merupakan nama sebuah Gua unik, namun di dekat gua tersebut terdapat sebuah air terjun yang sangat indah bahkan banyak pelancong menyebutnya sebagai Grand canyon-nya Gunung Kidul.

Peta Luweng Sampang

Lihat juga keindahan Curug Banyunibo

Lika Liku Cerita Sejarah Curug Banyunibo

Sejarah curug banyunibo – anyunibo (Air Yang terjatuh) merupakan situ air tejun yang terletak di dusung Kabrokan kulon, kelurahan Sendangsari, kecamatan pajangan, Kabupate Bantul atau sekitar 30 km selatan pusat kota Jogja. Selain menyimpan keindahan serta keasrian Alam yang masih terjaga secara alami, ternyata Curug Banyunibo juga menyimpan sebuah sejarah atau mitos yang cukup menarik untuk ditelusuri. Air Terjun yang memiliki hulu mata air di Dusun Gupak Warak dan berketinggian sekitar 40 meter ini ternyata menyimppan cerita menarik yan berkaitan dengan Sultan Agung (Raja Mataram). penasaran ingin tahu seperti apa ? berikut ini cerita yang dipeoleh dari hasil wawancara tokoh sesepuh Dusun kabrokan Kulon dan sekitarnya.

Curug Banyunibo
Curug Banyunibo

Mitos/Sejarah Curug Banyunibo Pada tahun 1954, saat mendekati pemilihan Umum untuk perama alinya terdapat peristiwa yang cukup menggemparkan warga di sekitar Curug banyunibo. peristiwa itu adalah adanya seseorang yang tidak dikenal berpenampilan seperti rakyat jelata mengambil buah jambu biji milik warga di dusun Krebet tepatnya seelah Utara air terjun Banyunibo. Menurut legenda masyarakat sekitar, orang tak dikenal tersebut kemudian dikejar oleh warga hingga terkepung di atas air terjun Banyunibo, karena sudah merasa terkepung orang tersebut kemudian melompat ke air terjun Banyunibo lalu mendarat di kubangan air terjun banyunio. hal yang paling mengejutkan adalah ketika ia melompat ke awah ternyata dia masih selamat. Karena banyaknya warga yang mengepung, orang tersebut kemudian menepi dan menyerahkan diri pada warga. Kemudian setelah ditankap, orang itu di bawa ke Penewon/Kecamatan. Saat diinterogasi di Penewon dan dimintai identitasnya, semua orang yang menghadiri “persiangan” tersebut kaget karena ternyata orang tak dikenal tersebut adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Setelah ditanya lebih lanjut, ternyata maksud kedatanganya, Sri Sultan ingin mengetahui sejauh mana kesiap siagaan wara terhadap orang asing. Beliau menyamar menjai rakyat biasa untuk mengetes sejauh ana respon warga tersebut, dan ternyata cukup bagus. Dari situ Sri ultan merasa bangga atas kesiagaan Warga di sekitar Curug banyunibo. Itulah sejarah singkat Curug banyunibo yang cukup menarik Meskipun kebenarannya belum bis diamini, namun cukup membuat Obyek wisata ini berwarna tak hanya dari keindahan alamnya, namun dari segi sejarah atau mitos menjadi cerita menarik untuk dipelajari.