Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: tisagajogja
Sumber Gbr: tisagajogja

Masih ingat slogan “IJAB QABUL” yang sering terpasang di spanduk – spanduk sepanjang jalan di Yogyakarta? Penyebab utama munculnya spanduk ini adalah karena adanya isu bahwa Presiden ke 6 pada saat itu hendak menghilangkan keistimewaan Yogyakarta, dari Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Provinsi Yogyakarta. Isu ini telah memancing banyak kontroversi hingga terbentuklah relawan dan banyak lembaga lain yang menolak penghapusan ke-istimewa-an Yogyakarta ini bahkan hingga Hamengku Buwana 10 (Sultan Yogyakarta) mengeluarkan Sabdatama (amanah) yang berisikan bahwa “Yogyakarta adalah bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Bersatu tak berarti melebur! ”

Sumber Gbr: shymfony
Sumber Gbr: shymfony

 

Jauh sebelum bersatu dengan NKRI, Yogyakarta telah di akui sebagai sebuah negara berdasarkan perjanjian Giyanti. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alaman yang merupakan cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai “Kerajaan vasal / Negara bagian / Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC hingga Kekaisaran Jepang. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri di bawah pengawasan pemerintah pusat.

Sumber Gbr: jogjatraveling
Sumber Gbr: jogjatraveling

Ketika Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), posisi Negeri Ngayogyakarta dan Pakualaman berada di persimpangan jalan. Antara bergabung dengan NKRI atau membuat negara sendiri yang berdaulat. Kala itu, sebenarnya Yogyakarta secara sistem pemerintahan sudah bisa membuat negara sendiri. Namun pada akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII memutuskan bergabung dengan NKRI.

Sumber Gbr: ranarast
Sumber Gbr: ranarast

Yogyakarta mulai bergabung dengan Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ijab Qabul menjadi analogi  bergabungnya 2 negara menjadi satu. Dan yang dimaksud dengan “Bersatu Tidak Berarti Melebur” adalah meskipun Yogyakarta bergabung dengan Indonesia tidak berarti segala sesuatunya bisa diatur oleh pemerintah pusat, karena pemegang kekuasaan tertinggi di Yogyakarta tetap berada di tangan sang Raja yakni Sri Sultan HB X. Maka dari itu Yogyakarta di beri Mahar berupa daerah setingkat Provinsi yang Istimewa bukan Provinsi.

Sumber Gbr: Liputan6
Sumber Gbr: Liputan6

Bisa dibilang jika tidak ada pengakuan bergabungnya Daerah Istimewa Yogyakarta, maka NKRI juga tidak ada. Saat itu tidak ada satu kerajaan maupun negara – negara bentukan Belanda yang menyatakan bergabung dengan NKRI, sehingga Yogyakarta merupakan wilayah pertama di NKRI. Pernyataan bergabungnya Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI memiliki nilai strategis yang luar biasa, salah satunya menjadikan negara yang baru merdeka ini memiliki wilayah kedaulatan, dan langkah ini pun kemudian diikuti wilayah-wilayah lain termasuk negara – negara atau kerajaan – kerajaan di Nusantara yang dibentuk Belanda. Pengorbanan yang tidak kalah pentingnya adalah ketika NKRI berdiri, maka harus memiliki mata uang,sehingga harus ada jaminan uang emas di Bank Indonesia agar uang dapat dicetak. Dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan ikhlas memberikan emas batangan milik Keraton Yogyakarta sebagai jaminan, dan sampai saat ini pihak keraton tidak pernah mengungkit – ungkit serta meminta kembali.

Dalam sejarahnya Yogyakarta memiliki peranan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949 pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Selama pusat pemerintahan berada di Yogyakarta inilah Sri Sultan HB IX menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak dibayart semenjak Agresi Militer ke-2. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010.

Masjid Gedhe Kauman, Wujud Ketaatan Seorang Sultan

Masjid Gedhe Kauman adalah masjid tertua yang dibangun oleh Kerajaan Islam Ngayogyokarto Hadiningrat atau Kasultanan Jogjakarta. Masjid Gedhe dibangun setelah Sri Sultan Hamengku Buwana I selesai membangun kraton baru, sebagai pusat pemerintahan baru hasil dari perundingan Giyanti ( 13 Februari  1755 ). Perundinganm Giyanti merupakan penyelesaian akhir konflik internal Kerajaan Mataram akibat intervensi Belanda, sehingga Kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, yaitu Ngayogyakarta Hadiningrat dan Surakarta Hadiningrat.

Sumber Gbr : infobimo
Sumber Gbr : infobimo

Sebelum menjadi raja, Sri Sultan Hamengku Buwana I ialah seorang muslim yang taat mengerjakan sholat, puasa wajib dan puasa sunah. Selain itu, ia juga getol dalam ber-amarmakruf-nahi mungkar membersihkan kemaksiatan, menegakkan keadilan dan kebenaran, serta melawan penjajahan. Seperti saat perang gerilya melawan Belanda, setiap pos yang dibangun untuk tempat prajuritnya dilengkapi dengan Mushola. Maka ketika Sri Sultan Hamengku Buwana I menjabat sebagai Raja, dibangunlah sebuah masjid tak jauh dari Kraton sebagai sarana ibadah raja bersama rakyatnya.

Sumber Gbr : muslimdaily
Sumber Gbr : muslimdaily

Selain Sri Sultan Hamengku Buwono I, pembangunan Masjid Gedhe Kauman juga diprakarsai oleh Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M. Komplek masjid memiliki luas keseluruhan mencapai 16.000m3. Selain bangunan utama masjid terdapat pula bangunan-bangunan lain, di antaranya kolam di area serambi dalam yang dahulu berfungsi sebagai tempat berwudhu dan untuk membersihkan kaki sebelum memasuki masjid. Lalu ada 2 buah Pagongan, yang terletak di sebelah utara dan selatan merupakan tempat gamelan, 2 buah Pajagan (tempat berjaga), Pengulon (rumah para ulama dan imam) serta makam, kantor sekretariat, dewan takmir serta kantor urusan agama. Ruang sholat utama ini ditopang oleh 36 tiang yang terbuat dari kayu jati jawa tanpa sambungan. Kemudian saka guru atau tiang utama terdiri atas 4 tiang dengan tinggi masing-masing 4 meter. Diperkirakan tiang kayu ini telah berusia 400-500 tahun.

Sumber Gbr : nyusurimasjid
Sumber Gbr : nyusurimasjid

Wujud Masjid Gedhe yang sekarang berbeda dari bentuk aslinya dulu. Perubahan terjadi pada serambi masjid misalnya, di mana kini telah menjadi dua kali lipat lebih luas dan lebih megah dari wujud aslinya. Bahkan, serambi masjid ini masih lebih luas dibandingkan dengan ruang utama masjid. Renovasi pada serambi masjid dilakukan karena gempa yang terjadi pada tahun 1867 yang merubuhkan serambi asli. Selain itu, lantai dasar masjid yang dulunya terbuat dari batu kali, kini telah diganti dengan marmer dari Italia.

Sumber Gbr : masjidgedhe
Sumber Gbr : masjidgedhe

Ada tiga peristiwa penting yang menjadi saksi sejarah di Masjid ini. Yang pertama sewaktu KH Ahmad Dahlan menjabat sebagai ulama Keraton, beliau berhasil mengoreksi atau membetulkan arah kiblat yang mempunyai selisih kemiringan 23 derajat. Kedua, pada masa perjuangan kemerdekaan RI, tempat ini sering digunakan oleh Tentara Rakyat Indonesia bersama para pejuang Asykar perang Sabil untuk menyusun strategi penyerangan melawan agresi Belanda. Yang ketiga, masjid ini juga banyak berperan sebagai sarana perjuangan komponen angkatan 66 yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia dalam menumbangkan Orde Lama dan membubarkan Partai Komunis Indonesia.

Lokasi & Harga Tiket Masuk Masjid Gedhe Kauman

Lokasi Masjid Gedhe Kauman sangat mudah ditemui karena hanya terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Masjid ini masuk wilayah administrasi Kampung Kauman, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masuk ke Masjid ini tidak dikenakan biaya alias geratis hanya mungkin jika anda parkir di gerbang timur masjid akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp 2.000/ Motor dan Rp 5.000/ Mobil. Jika anda menggunakan motor bisa lewat pintu Selatan atau melalui jalan Kauman dan langsung parkir di depan Masjid tanpa perlu membayar biaya parkir.

Peta Masjid Gedhe Kauman