Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

share small Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang
tisagajogja 300x150 Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: tisagajogja

Masih ingat slogan “IJAB QABUL” yang sering terpasang di spanduk – spanduk sepanjang jalan di Yogyakarta? Penyebab utama munculnya spanduk ini adalah karena adanya isu bahwa Presiden ke 6 pada saat itu hendak menghilangkan keistimewaan Yogyakarta, dari Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi Provinsi Yogyakarta. Isu ini telah memancing banyak kontroversi hingga terbentuklah relawan dan banyak lembaga lain yang menolak penghapusan ke-istimewa-an Yogyakarta ini bahkan hingga Hamengku Buwana 10 (Sultan Yogyakarta) mengeluarkan Sabdatama (amanah) yang berisikan bahwa “Yogyakarta adalah bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Bersatu tak berarti melebur! ”

jogja shymfony 300x199 Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: shymfony

 

Jauh sebelum bersatu dengan NKRI, Yogyakarta telah di akui sebagai sebuah negara berdasarkan perjanjian Giyanti. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alaman yang merupakan cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai “Kerajaan vasal / Negara bagian / Dependent state” dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC hingga Kekaisaran Jepang. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayahnya sendiri di bawah pengawasan pemerintah pusat.

jogja jejaktraveling 300x200 Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: jogjatraveling

Ketika Soekarno – Hatta memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), posisi Negeri Ngayogyakarta dan Pakualaman berada di persimpangan jalan. Antara bergabung dengan NKRI atau membuat negara sendiri yang berdaulat. Kala itu, sebenarnya Yogyakarta secara sistem pemerintahan sudah bisa membuat negara sendiri. Namun pada akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII memutuskan bergabung dengan NKRI.

jogja ranarast 300x169 Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: ranarast

Yogyakarta mulai bergabung dengan Indonesia pada tanggal 5 September 1945. Ijab Qabul menjadi analogi  bergabungnya 2 negara menjadi satu. Dan yang dimaksud dengan “Bersatu Tidak Berarti Melebur” adalah meskipun Yogyakarta bergabung dengan Indonesia tidak berarti segala sesuatunya bisa diatur oleh pemerintah pusat, karena pemegang kekuasaan tertinggi di Yogyakarta tetap berada di tangan sang Raja yakni Sri Sultan HB X. Maka dari itu Yogyakarta di beri Mahar berupa daerah setingkat Provinsi yang Istimewa bukan Provinsi.

jogja liputan6 300x166 Yogyakarta, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sumber Gbr: Liputan6

Bisa dibilang jika tidak ada pengakuan bergabungnya Daerah Istimewa Yogyakarta, maka NKRI juga tidak ada. Saat itu tidak ada satu kerajaan maupun negara – negara bentukan Belanda yang menyatakan bergabung dengan NKRI, sehingga Yogyakarta merupakan wilayah pertama di NKRI. Pernyataan bergabungnya Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman ke dalam NKRI memiliki nilai strategis yang luar biasa, salah satunya menjadikan negara yang baru merdeka ini memiliki wilayah kedaulatan, dan langkah ini pun kemudian diikuti wilayah-wilayah lain termasuk negara – negara atau kerajaan – kerajaan di Nusantara yang dibentuk Belanda. Pengorbanan yang tidak kalah pentingnya adalah ketika NKRI berdiri, maka harus memiliki mata uang,sehingga harus ada jaminan uang emas di Bank Indonesia agar uang dapat dicetak. Dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan ikhlas memberikan emas batangan milik Keraton Yogyakarta sebagai jaminan, dan sampai saat ini pihak keraton tidak pernah mengungkit – ungkit serta meminta kembali.

Dalam sejarahnya Yogyakarta memiliki peranan penting dalam mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949 pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Selama pusat pemerintahan berada di Yogyakarta inilah Sri Sultan HB IX menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak dibayart semenjak Agresi Militer ke-2. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010.

Popular Tags:

  • status maka di kenal maka di sayank

Advertisement

No comments.

Leave a Reply